Mengambil bagian dalam misi keselamatan Allah

Matius 4 : 18-22 : "Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia."

RENUNGAN : 

Warta keselamatan Allah mesti terus disebarluaskan sampai ke ujung bumi. Warta keselamatan ini ditawarkan kepada semua orang. Tuhan Yesus memilih para rasul untuk ikut ambil bagian dalam misi keselamatan Allah. Mereka berani meninggalkan cara hidup lama. Yesus menawarkan hidup baru dalam kasih dan pelayanan. Berkat Sakramen Baptis, kita masuk dalam persekutuan anak-anak Allah. kita pun menjadi rasul-rasul Yesus di zaman modern ini. Bagaimana selama ini kita menghayati tugas ini? 

(Ruah 2012 - Sabda Allah Menyegarkan Jiwa) 

Tanda-tanda alam menyampaikan pesan iman

Lukas 21:20-28:"Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu."Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat."

Renungan :

Tiap hari kita mengalami aneka peristiwa alam. Tanda-tanda alam ini mempunyai makna yang mendalam. Sebagai orang beriman, kita cukup bijak menyikapi aneka peristiwa ini dalam kerangka karya keselamatan Allah. Melalui aneka peristiwa itu, Allah mau mengatakan sesuatu kepada kita. Allah mempunyai rencana yang indah dalam hidup kita. Sudahkah kita mampu menyikapi tiap peristiwa dengan iman? Jawaban Anda menunjukkan kedewasaan hidup Anda sendiri.

Hidup iman mengalami saat-saat hangat dan saat-saat lesu

Lukas 21:12-19

Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh. dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu."

Renungan:

Bacaan-bacaan hari ini mengingatkan saya akan seorang Suster. Suster ini berasal dari keluarga dan lingkungan bukan Katolik. Semakin ia berusaha mencari informasi menjadi Suster, semakin hatinya tergoda untuk menjadi biarawati. Tetapi orangtua pasti menentangnya; sanak-saudara dan lingkup keluarganya pun demikian. Ia mencari akal. Kepada keluarganya ia berkata: "Saya mau sekolah. Tempatnya jauh. Kalian tak perlu mencemaskan saya." Masa kritis tiba, tatkala orangtua curiga: sekolah terlalu lama; masa libur juga sangat singkat. Pihak keluarga ingin mengetahui apa yang terjadi. Sang Suster berdoa agar panggilan jangan putus. Perlahan-lahan dan dengan segala cara, Suster memberitahukan panggilannya kepada keluarga. Yakin akan rahmat Allah, ia memasrahkan segalanya kepada Tuhan, dalam membimbing panggilannya dan didukung oleh keluarganya.

Menurut Rasul Paulus, hidup iman kita mirip dengan gelanggang pertandingan, dan "setiap orang turut berlari, untuk memperoleh medali".Sebenarnya, hidup iman bukanlah melulu militansi, melainkan seperti dikatakan oleh Santa Theresiadari Lisieux: hidup iman mengalami saat-saat hangat dan saat-saat lesu. Menyiasati hidup yang demikian, seturut nasehatnya, ada tiga diskresi: Pertama tahu bersyukur atas dorongan kehangataniman yang dari Tuhan. Kedua bersabar dalam masa suram. Ketiga usaha untuk bangun kembali. Jangan terlalu lama biarkan diri terhanyut dalam kelelapan iman.

(Renungan Harian Mutiara Iman 2012, Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta)

 

Persembahan dan Ketulusan Hati

Lukas 21:1-4: Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."

Renungan :

Kehadiran janda miskin dalam bacaan hari ini menjadi perhatian pengajaran Yesus. Bacaan Injil mengisahkan tentang persembahan seorang janda miskin. Walaupun jumlah persembahan janda itu tidak sebanyak dari persembahan yang lain, Yesus memuji janda itu. Yesus melihat persembahan tersebut walaupun kecil, namun memiliki nilai yang sangat besar. Kebesaran nilai itu ditegaskan karena ketulusan hati dalam membawa persembahan. Tuhan tidak menetapkan seberapa besar persembahan yang bias kita berikan, namun Tuhan meminta persembahan yang dipersembahkan dengan ketulusan hati. Ya, ketulusan hati itulah yang hendak ditekankan Yesus.
Apapun yang kita lakukan, jika disertai ketulusan seperti janda miskin dalam bacaan Injil , itu lebih berharga dihadapan Tuhan. Sebagai orang Katolik, menolong orang lain juga menjadi salah satu tugas perutusan kita. Bantuan yang diberikan dengan ketulusan hati akan lebih mulia. Dalam memberikan persembahan maupun bantuan kepada orang lain, janganlah kita menghitung-hitung besarnya bantuan supaya dibalas orang lain. Bantuan dan persembahan yang kita lakukan dengan ketulusan hati, akan menjadi sumber kebahagiaan bagi kita, sesama dan Tuhan.


Yesus : penyelamat dari belenggu dosa

Yohanes 8:34-35:  "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Hamba tidak tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tinggal dalam rumah" 

Renungan:

Dalam karya-karyaNya, Yesus menemui tantangan yang cukup besar ketika Ia berhadapan dengan orang-orang Yahudi.  Orang-orang Yahudi pada masaNya memiliki keyakinan bahwa mereka adalah bangsa terpilih keturunan Abraham yang tidak akan menjadi hamba siapa pun. Maka, ketika Yesus datang dengan kabar penyelamatanNya, bangsa Yahudi skeptis, karena mereka merasa sebagai keturunan Abraham yang  tidak akan pernah menjadi hamba siapapun. Orang-orang Yahudi itu mempersoalkan misi Yesus akan penyelamatan terhadap mereka. Namun, Yesus menegaskan bahwa Yesus ingin menyelamatkan mereka karena manusia  sering jatuh dalam dosa, manusia adalah hamba dosa.

Sebagai orang Katolik pun, kita sering memiliki keyakinan  bahwa dengan pembaptisan kita terbebas dari perbudakan dosa, kita kadang kurang menyadari bahwa kita hidup dalam suasana dosa.  Dalam situasi demikian, kita sebenarnya masih terbelenggu dalam suasana tidak bebas. Jika kita tidak merdeka kita tidak berhak berada di dalam rumah Bapa kita dan apalagi di dalam Allah Bapa dan Allah Bapa di dalam kita.

Kehadiran Yesus adalah ingin menyelamatkan kita dari belenggu dan situasi dosa. Sikap menerima Yesus dan dekat dengan Yesus adalah salah satu kunci keselamatan tersebut. Doa adalah salah satu cara kita mendekatkan diri pada Yesus. Karya-karya kebaikan nyata merupakan perwujudan bahwa kita ingin berkarya bersama Yesus. Sabda-sabda Allah dalam Kitab Suci merupakan kata-kata Tuhan sendiri. Lewat sabda-sabdaNya kita diajarkan begitu banyak kebaikan dan jalan menuju keselamatan sejati. Sudahkan kita menerima dan mendekatkan diri pada Yesus melalui doa, karya dan mendengarkan sabda-sabdaNya dalam hidup sehari-hari kita? Karena itulah jalan yang akan menyelamatkan kita dari belenggu dosa.

Mulailah Menata Diri

Lukas 20:27-40: "Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itupun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali."  Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus." 

Renungan :

Dalam peribahasa Jawa, ada ungkapan, “suwargo nunut, neroko katut.” Artinya, kita menumpang orang masuk surga, dan bisa terbawa ke neraka. Orang sering malas dalam memelihara hidup rohani. Mereka malas berdoa, menerima sakramen, bahkan malas mengikuti kurban Ekaristi. Mereka hanya minta didoakan orang lain. Padahal, setelah mati kita harus mempertanggungjawabkan hidup dan nasib kita masing-masing. Mulailah menata diri, dan mulai dari sekarang.

Doa :

Tuhan Yesus Kristus teguhkanlah kepercayaan kami bahwa sungguh tidak ada suatu apa pun yang dapat memisahkan kasih-Mu kepadaku, bahkan maut pun tidak. Aku sangat rindu untuk selalu bersatu dengan-Mu, baik didunia ini maupun di akhirat kelak. Amin.

[Inspirasi : Ruah 2012, Sabda Allah Menyegarkan Jiwa] 

Menjaga kesucian hidup

Lukas 19:45-48: "Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia".

Renungan :

Dalam peristiwa paskah, kita mengenangkan peristiwa kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus ini menjadi mometum lahirnya Gereja, Yerusalem baru. Yerusalem baru merupakan persekutian umat beriman yang telah diselamatkan, ditebus oleh kurban Paskah Kristus sendiri.

Sebagai orang beriman, kita adalah anggota Gereja, kita adalah anggota Yerusalem yang baru. Sebagai umat beriman yang telah diselamatkan, kita mengenakan "pakaian" baru yang serba bersih. Kita memelihara rahmat Tuhan ini dengan selalu hidup dalam kesucian. Sakramen tobat dan ekaristi menjadi tanda dan sarana menyucikan hati dan akal budi kita. Hati kita telah terpikat kepada kuasa kasih keselamatan Tuhan.

Gereja sebagai Yerusalem Baru

Lukas 19:41-44: "Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau."


Renungan :

Yerusalem adalah kota pilihan Allah. Namun, Yerusalem menolak Yesus sebagai Mesias utusan Allah. Yesus menangisi Yerusalem karena mereka tidak mengerti rencana keselamatan Allah. Nah, Gereja adalah Yerusalem baru yangmengerti dan menerima kehadiran Yesus. Kita berusaha terus mengasah dan menguatkan iman kita. Kita mesti kuat menghadapi tantangan hidup ini. Jangan sampai Yesus menangis lagi karena melihat kita tidak setia kepadaNya.

(Ruah 2012 - Sabda Allah Menyegarkan Jiwa)

Mengembangkan Anugerah Tuhan

Lukas 19:11-28: Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Maka Ia berkata: "Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya. Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku." Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.

Renungan :

Beberapa catatan singkat renungan hari ini adalah bahwa kita diciptakan Tuhan sebagai pribadi yang istimewa. Kita diciptakan berbeda dengan mahluk ciptaan lainnya. Salah satu anugah terindah yang Tuhan berikan adalah kemampuan kita berpikir dan mengembangkan diri bagi kehidupan bersama. 

Pembaharuan hidup sesuai kehendak Tuhan harus senantiasa diperbaharui agar sesuai dengan kehendak Tuhan dan perkembangan zaman. Tanpa usaha membaharui diri kita akan menjadi manusia yang tidak berkembang dan susah menjadi berkat bagi sesama. 

Terinspirasi oleh bacaan Injil hari ini, semoga kita menjadi pribadi-pribadi beriman dan bertanggungjawab atas anugerah-anugerah yang sudah Tuhan berikan. Kita tidak ingin membiarkan karunia-karunia yang Tuhan berikan menjadi mati sebagaimana hamba yang menyimpan mina titipan tuannya. Namun kita ingin mengembangkan berbagai karunia yang sudah Tuhan berikan, seperti hamba-hamba yang rajin dan terus mengembangkan titipan tuannya. 

Menjadi saluran berkat

Lukas 9:1-10: "Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Renungan :

Kehadiran Yesus senantiasa membawa sukacita bagi banyak orang. KehadiranNya juga mengubah banyak orang pada sikap hidup yang lebih baik. Firman Tuhan mempunya daya ubah yang luar biasa bagi setiap pribadi yang dijumpaiNya. Dalam bacaan hari ini,  kehadiran Yesus telah mengubah hidup Zakeus sang pemungut cukai. Hati Zakeus disentuh oleh belas kasih Yesus. Zakeus mengalami keselamatan Tuhan. Ia bertobat dan berani mengawali hidupnya secara baru. 

Sebagai murid-murid Yesus, kita juga telah diselamatkan melalui sakramen pembaptisan. Sakramen ini telah menghapus dosa asal kita, dan mengembalikan hubungan kita dengan Allah. Melalui pembaptisan ini pula, kita di persatukan dalam kekudusan GerejaNya. Sakramen baptis telah mengubah hidup kita menjadi baru. Kita menjadi suci dan menjadi saluran berkat Tuhan bagi sesama. Mari kita menyalurkan berkat kepada sesama. Jangan menunda rahmat Tuhan. 


Tuhan jauh lebih memahami apa yang kita butuhkan dalam hidup ini

Lukas 18: 35-43: "Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?" Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat." Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"  Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!"  Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah."

Renungan :

Dalam pengalaman kita sehari-hari, ada begitu banyak keinginan dalam diri kita yang seakan-akan mendesak untuk dipenuhi. Tidak heran, dalam doa-doa kita pun, kita seringkali meminta begitu banyak hal kepada Tuhan. Jika doa belum juga dikabulkan sesuai keinginan, kita sering putus asa, kita juga kadang menjadi lekas marah. Bahkan kita marah kepada Tuhan, karena kita merasa doa kita tidak atau belum dikabulkan.

Sebaiknya kita meminta sesuatu kepada Tuhan sesuai dengan kebutuhan kita. Jika kita memaksakan keinginan kita dalam doa, berarti kita mendikte Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan jauh lebih mengetahui apa yang paling kita butuhkan dalam hidup ini. Dalam renungan hari ini, marilah kita melihat kembali cara-cara kita berdoa kepada Tuhan. 


Pengajaran tentang tanda-tanda zaman

Markus 13:24-32: "Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dan pada waktu itupun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit. Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu. Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja."


Renungan hari ini :


Injil hari ini berbicara tentang kedatangan Putra Manusia. Yesus berbicara tentang peristiwa yang penting dalam salah satu tugas pewartaanNya yakni tentang akhir jaman. Yesus mengajak para muridNya untuk membaca tanda-tanda jaman itu. Sebagaimana alam mempunyai hukum dan tanda-tanda perubahannya sendiri, kedatangan Anak Manusia juga disertai oleh tanda-tanda yang hendaknya dipahami oleh para murid. Para murid diingatkan bahwa jaman akan berakhir dan mereka harus mempersiapkan diri.

Di masa-masa akhir tahun liturgi, Gereja dengan firmannya selalu mengingatkan akan datangnya akhir jaman. Entah kapan, tidak pernah dipastikan bahwa jaman dan waktu kita ini akan berakhir. Suka atau tidak, hidup kita di dunia ini, pasti akan berakhir, cepat atau lambat. Karena itu gereja mengajak kita untuk selalu waspada dan siap sedia. Saat di mana kita masih mempunyai kesempatan, kita diajak untuk mengisi waktu kita, hidup kita ini secara baik seturut firman dan ajaran Tuhan. Menata dan menyiapkanhidup sebaik mungkin sebagai putra-putri Allah, menjadi bekal kita untuk menghadapi akhir jaman.

Jaman akan berakhir dan kehidupan kita akan musnah, namun kita tidak perlu takut karena bersama Tuhan kita akan diselamatkan. Hidup, langit dan bumi akan lenyap tetapi Yesus Putra Allah, akan menjadi keselamatan bagi kita.

(Renungan Harian Mutiara Iman 2012, Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta)

Kesetiaan dalam doa

Lukas 18: 1-8: "Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: "Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku." Kata Tuhan: "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"

Renungan:

Perumpamaan tentang hakim yang tak benar pada Injil hari ini, mengundang kita untuk merenungkan kesetiaan kita dalam berdoa. Yesus dalam perumpamaanNya tidak menonjolkan peran hakim namun lebih pada kesetiaan janda, kaum lemah yang terus menerus meminta pertolongannya. Hakim merasa terganggu oleh janda itu karena permintaan yang terus menerus dan ia mengabulkan permohonannya.

Janda dipuji karena ketekunan dan keyakinannya yang tak terputus untuk terus menerus memintabantuan kepada sang hakim. Kepada kita Yesus memberikan contoh iman dan ketekunan si janda. Ketekunan dan kesetiaan untuk memohon kepada Allah diharapkan oleh Yesus dari kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mudah putus asa. Kita kadang menginginkan doa yang instant; cepat dikabulkan tanpa perlu terlalu banyak berdoa.

Kita sering mudah putus asa dan bahkan mogok berdoa karena doa kita tidak kunjung dikabulkan oleh Tuhan. Janda yang dikisahkan dalam Injil hari ini, member contoh kepada kita bagaimana kita perlu pertama-tama beriman dalam berdoa. Kita perlu percaya dan penuh penyerahan dalam doa-doa kita. Lebih dari itu, dalam doa-doa kita, kita perlu setia dan  terus menerus datang kepada Tuhan.Allah akan membenarkan orang-orang pilihanNya yang siang malam berseru kepadaNya.

(Renungan Harian Mutiara Iman 2012, Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta)

Kerajaan Allah ada di antara kamu

Lukas 17:20-25: "Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah,juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya.Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut.Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya.Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini."

Renungan:

Yesus selalu berbicara tentang Kerajaan Allah. Orang bertanya-tanya seperti apa Kerajaan Allah itu, di mana batas-batasnya, apa tanda-tandanya. Yang mereka kenal adalah kerajaan dunia yang jelas batas-batas wilayahnya; ada orang yang menjalankan kekuasaan, menjaga keamanan, dan ada undang-undangnya.

Kata Yesus, Kerajaan Allah ada di antara kamu. Kerajaan itu tidak punya tanda-tanda lahiriah. Tidak ada raja yang tinggal di istana, tidak ada angkatan bersenjata. Kerajaan Allah adalah di mana orang mengakui Allah sebagai Raja, menaati perintahNya untuk saling mengasihi, melayani dan mengampuni. Kerajaan Allah adalah suatu situasi damai, di mana ada hubungan baik antara manusia dengan Allah,manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam dan lingkungan hidupnya. Kita yang sudah menerima Kerajaan Allah dan ada di dalamnya, dipanggil untuk memperluas kerajaan itu, misalnya dengan menjadi pembawa damai. Itulah yang dilakukan rasul Paulus seperti dikisahkan dalam bacaan pertama.

Sebagai tahanan di dalam penjara, Paulus masih mampu menjalankan misi pendamaian. Dengan menulis surat kepada Filemon, Paulus berusaha mendamaikan dia dengan Onesimus, hambanya, yang melarikan diri dari majikannya dan mungkin telah mendatangkan kerugian pada tuannya. Paulus mohon ampun baginya dan menawarkan diri menjadi tanggungan dan mengganti segala kerugian yang  disebabkan oleh Onesimus. Bila itu terjadi, maka rumah Onesimus akan menjadi Kerajaan Allah.

(Renungan Harian Mutiara Iman 2012, Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta)


Hamba yang istimewa bagi Yesus

Lukas 17: 7-10: "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

Renungan:

Dalam kehidupan sehari-hari, kita menemukan bentuk relasi atasan- bawahan, bos-anak buah, tuan-hamba. Ada kecenderungan bahwa dalam relasi-relasi yang tadi disebutkan, terdapat jarak antara tuan dan hamba atau atasan dan bawahan. Banyak pula terjadi, seorang atasan memperlakukan bawahan dengan sesuka hatinya, kadang si bawahan juga pastah saja dengan nasibnya sebagai bawahan. 

Berbeda dengan relasi antara Yesus dengan para muridnya, antara Yesus dan kita. Para murid Yesus, termasuk kita yang adalah hamba Tuhan Yesus. Namun, Yesus sungguh memberikan keteladanan yang berbeda sebagai Tuan. Terhadap hamba-hambaNya, Yesus menempatkan para murid dan juga kita justru sebagai sahabat-sahabatNya. Sebagai hamba, kita diperlakukan istimewa oleh Yesus. Maka sudah sepatutnya kita bersyukur, karena kita ini adalah hamba yang istimewa di mata tuannya. Namun, karena  begitu istimewanya kita,  kadang kita yang hamba ini lupa diri. Tanpa kita sadari cara berdoa kita yang memaksa Tuhan untuk segera mengabulkannya adalah cara yang dipakai oleh tuan terhadap hambanya. Berarti kita telah menjadi tuan atas Tuhan sendiri, karena kita ingin doa kita segera dikabulkan. Kalau tidak maka kita menjadi marah dan berpaling.

Menjadi berkat bagi sesama

Lukas 17:1-6: "Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."



Renungan :

Kata-kata Yesus dalam salah satu ayat perikop hari ini terasa begitu keras bagi kita. celakalah orang yang mengadakan penyesatan. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya,  lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. 

Yesus begitu marah, jika kita menjadi batu sandungan bagi orang lain. Sebagai murid-murid Yesus, Ia menghendaki agar kita justru menjadi berkat untuk banyak orang, bukan malah sebaliknya. Sebagai murid-muridNya, Yesus menghendaki agar kita menjadi berkat bagi banyak orang, Ia juga menghendaki agar kita sempurna seperti Bapa sempurna adanya. Kita mesti sempurna seperti Bapa dalam mengampuni. Dengan mengampuni kita ikut ambil bagian sebagai penyalur rahmat Allah yang Maharahim. Seorang yang mengampuni, dia akan mengalami rasa syukur, kelegaan, kedamaian hati, kemurahan, kebahagiaan yang mendalam sebagai anak-anak Allah yang telah dicintai tanpa syarat. Segalanya akan berlimpah dan dia menjadi lepas bebas.

Melatih keutamaan iman melalui hal-hal yang sederhana

Bacaan Injil: Markus 12: 38-44: "Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: "Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat." Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

Renungan hari ini : 

Dalam bacaan Injil hari ini, ditampilkan bagaimana Yesus lebih memuji janda miskin yang memberikan sedekah. Janda itu memberikan sedekah dari kekurangannya. Yesus tahu, bahwa wanita itu memiliki banyak kebutuhan, dan Yesus juga tahu bahwa wanita itu adalah janda yang miskin. Namun Dengan penuh ketulusan hati wanita itu memasukkan uang persembahan itu. Bahkan dia tidak memikirkan diri sendiri dan problem hidupnya. 

Dalam kemiskinan secara materi, wanita itu tidak justru menyerahkan apa yang dia punyai. Dalam kekurangannya, wanita itu ingin meringankan beban sesamanya. Janda miskin memiliki iman yang kuat dan murni, iman yang dikuasai oleh kerelaan, kegembiraan, serta semangat dalam mencintai Tuhan dan sesama. Semangat dan kemurnian yang membuat janda miskin lupa akan kebutuhan bagi dirinya sendiri.

Jangan kita berpikir bahwa Tuhan menginginkan dari kita hal-hal yang luar biasa. Iblis sering menggodai kita untuk melakukan proyek-proyek raksasa, pekerjaan besar nan megah. Membuat kita terjerat dengan  ilusi dan melupakan hal-hal yang kongkrit, kecil, mungkin terasa sepele. Namun semua yang kita anggap remeh merupakan latihan keutamaan yang membuat kehidupan Rohani kita menjadi lebih baik. Lebih peka, peduli pada kebutuhan sesama, justru itu yang dikehendaki Tuhan.

Tuhan menginginkan kita berbagi, apapun keadaan kita. Karena dengan berbagi, kita telah menyalurkan rahmat dan kebaikan Tuhan. Tuhan itu Mahamurah dan selalu memberi.

Inspirasi dari : Renungan Harian Mutiara Iman 2012, Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar

Lukas 16:9-15: "Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.""Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah."

Renungan:

Suatu kali saya bertemu dengan seorang pengusaha. Kebetulan saat ini perusahaannya bertumbuh dengan baik. Ketika saya tanyakan, bagaimana awalnya dia terjun dalam dunia usahanya ini dan caramengembangkannya. Menurut ceritanya, dia mengawali usahanya karena didesak oleh kebutuhan menyediakan susu untuk anak-anaknya. Sebagai langkah awal dia membuat suatu produk yang mudahnamun dibutuhkan banyak orang. Dia menekuni yang sederhana itu dan sekarang ini dia pun mampu membuat hal-hal yang sangat rumit dan bermutu dengan kuantitas yang sangat besar.

Yesus bersabda, "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar." Kadang kita meremehkan perkara-perkara kecil, entah karena bila melakukan hal tersebutgengsi kita tidak terangkat, entah karena kita terobsesi pada hal-hal besar atau pun alasan-alasan yang lain. Namun mengerjakan perkara-perkara kecil dengan setia akan melatih kita agar teliti, cermat danberdaya tahan. Pelatihan ini akan membentuk karakter kita. Dan bila hal itu kita lewati, kita akan bisa melakukan yang lebih besar, lebih besar dan lebih besar lagi. Bila ingin mengerjakan yang besar dengan baik, lewatilah dahulu hal-hal kecil dengan sempurna.

(Renungan Harian Mutiara Iman 2012, Yayasan Pustaka Nusatama,Yogyakarta)

Tubuh kita adalah bait Allah tempat Roh Allah bertahta

Yohanes 2:13-22: "Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku." Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?" Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus."

Renungan :

Yesus begitu marah ketika Bait Allah untuk berjualan dan dijadikan sarang penyamun. Dia mengobrak abrik semua yang ada disitu. Orang Yahudi menanggapinya dengan marah dan minta tanda pada Yesus. Karena cintaNya kepada manusia Yesus wafat disalib, dimakamkan, mengalami kematian akibat dosa manusia, namun Dia telah bangkit. Setelah Dia bangkit dari antara orang mati, teringatlah para murid bahwa Dia telah mengatakannya. Sia-sialah iman kita jika Kristus tidak bangkit, kata santoPaulus.

Yesus memang bangkit, sungguh bangkit! KebangkitanNya telah membuat pertentangan banyak orang sehingga mereka membuat cerita bohong bahwa Yesus itu tidak mati. Namun kebangkitan Yesus tidak bisa disangkal dan sungguh nyata kebenarannya. Para Rasul dan banyak pengikutNya menjadi saksi iman walaupun disiksa dan kehilangan nyawanya untuk menjadi saksi kebangkitan Yesus. Rasul Paulus memberi kesaksian demikian "Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.

Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu". Tubuh kita memang adalah bait Allah tempat Roh Allah bertahta, hendaklah kita menjaga tubuh dan jiwa kita sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Dalam kesucian kasih.

(Renungan Harian Mutiara Iman 2012, Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta)

Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat

Lukas 15:1-10: "Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."

Renungan hari ini :

Bacaan hari ini sungguh menyentuh hati kita sebagai manusia lemah yang kadang terjatuh dalam dosa. Bacaan Injil, ingin menyampaikan satu pesan dominan tentang betapa Yesus sangat mengasihi kita. Dalam bacaan tersebut dituliskan bagaimana Yesus "menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Pengalaman jatuh dalam dosa, tidak membuat Yesus meninggalkan umatNya. Tapi Ia justru terus mencari, dan ingin segera menyelamatkan manusia dari kejatuhan dosa. Ini sekaligus menjadi  keteladanan Yesus bahwa kita sebagai pengikutnya pun tidak seharusnya memilih milih dalam pergaulan. Di mata Tuhan, semua orang itu istimewa.

Dalam menunjukkan kecintaan Yesus pada kita, Yesus hanya menginginkan supaya kita bertobat dan tidak mengulangi kesalahan atau perbuatan-perbuatan dosa. Semangat pertobatan dalam diri, akan begitu membahagiakan Yesus, ibarat domba yang hilang telah ditemukan, sang gembala akan meletakkannya domba yang hilang dan ditemukan itu di atas bahunya dengan penuh kegembiraan. Bahkan sebagaimana sabda Yesus dalam bacaan hari ini, pertobatan seseorang akan membuat malaikat-malaikat Allah turut bersukacita, karena satu orang berdosa yang bertobat.  

Semoga melalui sabda Yesus hari ini, kita yang kadang jatuh dalam dosa-dosa yang sama, semakin menyadari kebaikan dan cinta Tuhan pada kita. Sehingga kita semakin menumbuhkan sikap pertobatan dan pembaharuan diri terus menerus. Supaya kasih Allah semakin sempurna kita alami dalam hidup.

Doa :

Tuhan Yesus, terima kasih atas cintaMu kepada kami. Walaupun kami sering jatuh dalam dosa yang sama, Engkau selalu menarik kami kembali pada jalanMu. Tunjukkanlah kami selalu jalan terang dan kebenaranMu. Agar pada saat kami kembali kepadaMu, kami dapat semakin bersukacita bersamaMu dan para malaikat kudusMu. Amin. 

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku

Lukas 14:25-33: "Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku."

Renungan Hari Ini :
Kalau mendengar kata-kata Yesus ini: "Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu", apa yang spontan muncul di hati Anda? Mungkin ada yang ingin mundur dari keinginan menjadi murid Yesus. Mungkin ada pula yang berkata: "Yesus kok kejam banget sih?!" Dan mungkin masih banyak lagi ungkapan-ungkapan spontan kita.
Tentu Yesus tidak bermaksud kejam agar kita membenci keluarga kita. Namun yang saya tangkap adalah untuk menjadi pengikutNya seseorang mesti total mencintai Tuhan lebih dari segalanya. Mereka yang menjadi pengikutNya mesti berani secara total mengikuti sabda dan karya-Nya dan menjadikannya sebagai sabda dan hidupnya. Tidak ada yang lebih utama selain Tuhan itu sendiri. Tidak ada hal yang boleh menjadi penghalang, keluarga pun tidak, melepaskan dirinya dari segala miliknya untuk mengikutiNya secara total.
Namun demikian saya yakin mengikuti Tuhan secara penuh cinta kita pada keluarga tidak akan hilang. Malah semakin total kita mengikuti sabda dan karya Tuhan semakin total pula cinta kita pada keluarga, sesama bahkan musuh kita.
(Renungan Harian Mutiara Iman 2012, Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta)


Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah

Lukas 4:15-24: "Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: "Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorangpun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku."

Renungan hari ini :

Bangsa Israel merupakan bangsa pilihan Allah. Mereka dipanggil untuk menikmati perjamuan pesta yang membahagiakan. Namun, mereka menolak undangan Tuhan ini. Artinya, mereka menolak kehadiran Tuhan yang mengundang mereka. Maka, Tuhan mengundang Israel baru untuk masuk dalam pesta Kerajaan Surga. Bagaimana sikap Anda selama ini? Sudahkah anda rajin mengikuti perayaan Ekaristi sebagai lambang perjamuan surgawi?

(Ruah 2012, Sabda Allah menyegarkan jiwa)


Berbuat baik dengan ketulusan

Lukas 14:12-14: "Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."

Renungan hari ini :

Injil hari ini merupakan ajakan Yesus kepada kita untuk melihat semakin dalam apa yang menjadi motivasi kebaikan kita. Seringkali pada saat berpesta kita mengundang orang yang itu-itu saja, dengan berbagai alasan: karena sungkan, karena ada kepentingan lobi jabatan atau kepentingan pribadi lainnya. Bahkan ada kecenderungan kita harus membuat pesta yang lebih besar supaya tidak malu. Yesus tidak melarang kita untuk mengadakan pesta begini. Tetapi marilah kita menyambut ajakan Yesus agar kita melihat apa tujuan kita yang sebenarnya dengan membuat pesta (baca: berbuat baik) ini. Apakah supaya dilihat orang atau malah berharap supaya orang juga lebih baik lagi terhadap kita. Berarti kita mengharap ada timbal balik, ada balas jasa, berharap ada upah yang lebih besar lagi. Maka marilah kita berbuat baik dengan tulus, dan tidak mengharapkan balasannya. Bahkan lupakanlah berapa kali kita sudah berbuat baik, jangan dihitung, tetapi berbuatlah kebaikan terus menerus tanpa kenal lelah.

Renungan Harian Mutiara Iman 2012, Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta)


Mengasihi Tuhan dan sesama

Markus 12:28b-34: "Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?"Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan."Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada." Yesus.

Renungan:

Kita masih ingat lagu I love you full, dari Mbah Surip. Lagu ini sempat booming dan disukai banyak orang dari segala lapisan. Mengapa? Ia berbicara tentang sebuah tema universal, tentang cinta yang dibutuhkan siapa saja, tentang kasih yang membawa damai dan sentosa, segala lapisan orang.

Inilah yang diminta Tuhan juga; mengasihi Allah sepenuh-penuhnya, dengan hati, jiwa, akal budi, segala usaha dan kekuatan bahkan dengan tubuh/raga. Tuhan juga ingin melihat cinta itu mempersatukan seluruh umat manusia, maka Ia memerintahkan saling kasih antar setiap manusia ciptaanNya. Tiada perbedaan, tiada pengelompokan, tiada kelas, tiada warna. Kata Marthin Luther King: I have a dream, bahwa yang hitam dan putih, yang merah dan kuning akan duduk bersama. Orang Manado katakan:"torang samua basudara!"

Apa sumbanganku terhadap pembangunan hidup dalam damai dan kasihmulai dari rumahku, dari kantorku, tempat hidup harianku dan bagi negeriku? Takutkah aku akan Tuhan? Hormatkah aku akan sesama: ada salam, ada senyum, ada tangan terulur, ada waktu terberi, ada rejeki terbagi? Apakah di mana setiap orang Kristen berada, kasih itu ada, kasih itu meraja, kasih itu mempersatukan?

(Renungan Harian Mutiara Iman 2012, Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta)

Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan

Lukas 14:1,7-11 : "Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Renungan :

Kita mengenal syair lagu ini, “Dia harus makin bertambah, ku harus makin berkurang; nama Kristus saja disembah, ku di tempat paling belakang.” Laku ini barangkali diinspirasi dari kata-kata dan tindakan Yohanes Pembaptis tatkala Yesus muncul di tengah khalayak umum. Kerendahan hati Yohanes Pembaptis ini hendaknya menjadi napas hidup kita. Kita berani mendahulukan orang lain daripada kepentingan pribadi. Mampukan anda melakukannya ?

(Ruah 2012, Sabda Allah menyegarkan jiwa)

Semakin dekat dengan Yesus: Jalan Keselamatan Kekal

Yohanes 6:37-40: "Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."

Renungan : 

Hari ini Yesus menyapa kita lewat sabdaNya, “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman." Muncul pertanyaan, bagaimana kita bisa melihat dan mengalami Yesus? Yesus menjumpai dan mendatangi kita dengan banyak cara. Salah satu cara kita berjumpa dengan Yesus adalah melalui sabda-sabdaNya, kita juga mengalami perjumpaan dengan Yesus dalam pemecahan roti (ekaristi), Ia hadir di dalam Gereja, sebagai tubuh Kristus. Yesus juga menyatakan dirinya dengan banyak cara. Ketika kita membaca firman Tuhan dalam kitab suci, kita sedang mendengarkan Yesus yang mengatakan sesuatu pada kita. Melalui kitab suci pula, Yesus menyampaikan pesan-pesan Bapa pada kita. Ketika kita duduk di depan Altar dalam sebuah perayaan ekaristi, Yesus menawarkan diriNya sebagai makanan rohani yang membawa kehidupan bagi kita. (Akulah roti hidup, Yoh 6:35). Ia menjanjikan hubungan yang erat antara kita dengan BapaNya.

Kita menjadi dekat dengan Yesus dan Bapa juga karena semata-mata kita memiliki iman yang merupakan pemberian Tuhan.  Iman merupakan karunia Allah yang dianugerahkan secara cuma-cuma bagi kita. Dengan iman itu lah kita menjadi semakin mengenal siapakah Yesus. Dan karena iman itu pula kita percaya pada Yesus yang akan menyelamatkan kita. Iman merupakan wujud bahwa kita menyerahkan secara total pada Tuhan yang dengan kasih telah menciptakan kita. Untuk hidup dan bertumbuh dalam iman, sekali lagi hubungan kita dengan Yesus harus senantiasa di jaga.

Semoga melalui bacaan hari ini, kita semakin mendekatkan diri dengan Yesus melalui sabda-sabdaNya di Kitab Suci, dan dalam ekaristi.  Semoga jerih payah rohani yang kita usahakan itu semakin membuahkan buah-buah yang baik, yang selaras dan dikehendaki Yesus sendiri. Sehingga setiap orang, yang melihat Yesus dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Yesus membangkitkan kita pada akhir zaman menuju kebahagiaan kekal bersama Bapa."

Sabda bahagia

Matius 5: 1-12a : "Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

Renungan :

Sukacita para hamba Allah yang dikisahkan dalam perikop ini yang luput dari kehancuran dan kebinasaan karena mereka telah dimeterai oleh malaikat, utusan Allah tak terkatakan. Meterai, stempel, cap ini tak hanya memberi identitas pada mereka, bahwa mereka termasuk umat Allah dan dilindungi oleh Allah tetapi juga telah membawa keselamatan. Maka ketika keempat malaikat yang bertugasmenghancurkan bumi dan laut datang hendak membinasakan bumi dan laut seisinya,mereka tak akan diganggugugat, tetap dibiarkan hidup aman. Betapa berbahagia mereka ini.

Kebahagiaan serupa dialami oleh para Kudus yang kita rayakan hari ini. Mereka tidak sekadar menerima meterai Allah lewat baptisan mereka, tetapi memelihara, menghidupi meterai atau identitas mereka selaku umat Allah dengan tulus, gembira, semangat berkobar. Mereka bahkan lebih baik menderita atau mati terbunuh daripada kehilangan meterai, kehilangan iman, kehilangan Allah selaku sumber kebahagiaan dan sukacita hidup. Apakah meterai baptisan kita telah member sukacita pada kita?

(Renungan Harian Mutiara Iman 2012, yayasan Pustaka Nusatama Yogyakarta)

Artikel & Renungan Populer

Daftar Renungan Lainnya :